| |

WJNC 2026 Meriahkan HUT ke-270 Kota Yogyakarta, Gana Kalajaya Hidupkan Malam Malioboro

YOGYAKARTA — Ribuan masyarakat dan wisatawan memadati kawasan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Rabu malam (7/10/2026). Suasana Kota Yogyakarta semakin semarak dengan digelarnya Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) #10 Tahun 2026, yang menjadi puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-270 Kota Yogyakarta.

Mengusung tema “Gana Kalajaya”, WJNC 2026 menghadirkan perpaduan seni pewayangan, koreografi, musik, tata busana, kendaraan hias, serta permainan cahaya dalam sebuah pertunjukan karnaval jalanan yang berlangsung di ruang publik Kota Yogyakarta. Perhelatan tahun ini sekaligus menandai satu dekade penyelenggaraan WJNC sejak pertama kali digelar pada 2016. Berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya, WJNC 2026 menggunakan rute yang lebih panjang, membentang dari kawasan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer. Perubahan rute tersebut memberikan ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk menyaksikan langsung pertunjukan budaya yang menjadi salah satu agenda unggulan Kota Yogyakarta.

Tema “Gana Kalajaya” diangkat dari karya Sri Sultan Hamengku Buwono X yang berkisah tentang perjuangan Bathara Gana dalam menghadapi Nilarudraka. Kisah tersebut tidak hanya ditampilkan sebagai cerita pewayangan, tetapi diterjemahkan ke dalam bahasa visual dan pertunjukan yang lebih modern melalui konsep street carnival. Secara filosofis, Gana Kalajaya membawa pesan tentang ora mingkuh, yaitu sikap tidak menghindar dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi berbagai tantangan. Gana dimaknai sebagai kekuatan masyarakat, Kala sebagai tantangan zaman, sedangkan Jaya menggambarkan kejayaan yang dapat dicapai melalui perjuangan bersama.

Kemegahan WJNC 2026 semakin terasa melalui keterlibatan perwakilan dari 14 kemantren se-Kota Yogyakarta. Setiap kemantren menampilkan kreativitas dan interpretasi masing-masing terhadap tema besar Gana Kalajaya, namun tetap terhubung dalam satu rangkaian cerita. Sekitar 2.000 penampil turut ambil bagian dalam perhelatan tersebut. Mereka terdiri atas berbagai unsur seni dan masyarakat yang bersama-sama menghidupkan karakter pewayangan melalui kostum, gerak tari, musik, properti, hingga kendaraan hias. Keterlibatan masyarakat dari berbagai wilayah tersebut menjadi salah satu kekuatan WJNC. Karnaval tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan lokal.

Kemeriahan WJNC 2026 juga semakin berwarna dengan hadirnya delegasi kesenian dari berbagai daerah. Melalui Gelaran Nuswantoro, sejumlah daerah seperti DKI Jakarta, Kota Mojokerto, Kabupaten Ponorogo, Brebes, Kota Magelang, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Sleman turut mengambil bagian dalam rangkaian acara. Kehadiran berbagai delegasi tersebut memperluas makna WJNC sebagai ruang pertemuan budaya. Yogyakarta tidak hanya menampilkan kekayaan budayanya sendiri, tetapi juga membuka ruang bagi berbagai daerah untuk memperkenalkan kesenian dan kreativitas masing-masing.

WJNC 2026 juga menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Yogyakarta memperkuat positioning “YK City of Festival”. Festival dipandang sebagai medium untuk memperkuat identitas kota, menggerakkan ekonomi kreatif, menciptakan pengalaman bagi masyarakat dan wisatawan, serta mempertemukan berbagai pelaku dalam ekosistem kreatif. Dengan menjadikan Malioboro dan kawasan Sumbu Filosofis sebagai panggung pertunjukan, WJNC sekaligus memperlihatkan bagaimana ruang kota dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari pengalaman wisata budaya.

Salah satu pengunjung yang turut menyaksikan WJNC 2026 adalah Jesika Ayu Aristawati, mahasiswa STIE Pariwisata API. Ia mengaku takjub melihat keberagaman budaya dan kreativitas yang ditampilkan dalam gelaran WJNC tahun ini.

“Sebagai mahasiswa pariwisata, saya merasa senang bisa hadir dan menyaksikan langsung acara ini. WJNC menunjukkan bahwa budaya dan pariwisata bisa berjalan beriringan. Event seperti ini tentu bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk datang dan mengenal Yogyakarta lebih jauh. Kita juga bisa melihat bahwa kebudayaan tidak hanya sesuatu yang harus dipelajari, tetapi juga bisa dinikmati dan dikembangkan melalui kreativitas,” ujar Jesika.

Di akhir keterangannya, Jesika turut menyampaikan ucapan selamat kepada Kota Yogyakarta yang memasuki usia ke-270 tahun.

“Selamat ulang tahun ke-270 untuk Kota Yogyakarta. Semoga Yogyakarta semakin maju, semakin dikenal sebagai kota budaya dan pariwisata, serta tetap mampu menjaga dan melestarikan kebudayaannya. Semoga WJNC dan berbagai event budaya lainnya juga terus berkembang dan semakin meriah di tahun-tahun berikutnya,” tutur Jesika.

cuplikan WJNC 2026.

WJNC 2026 bukan sekadar parade budaya yang berlangsung satu malam. Di balik kemeriahan kostum, musik, cahaya, dan koreografi, terdapat pesan tentang keberanian menghadapi perubahan dan tantangan. Gana Kalajaya mengajarkan bahwa kekuatan tidak hanya berasal dari satu individu, tetapi juga dari masyarakat yang mampu bergerak bersama.

Semangat tersebut sejalan dengan perjalanan Kota Yogyakarta yang terus berkembang tanpa meninggalkan akar budayanya. Tradisi tetap dirawat, sementara kreativitas terus diberikan ruang untuk tumbuh. Dari Malioboro hingga Titik Nol Kilometer, WJNC 2026 menjadi bukti bahwa budaya dapat hadir secara dinamis di tengah kehidupan kota. Yogyakarta tidak hanya merayakan usia ke-270, tetapi juga merayakan kreativitas, kebersamaan, dan semangat untuk terus melangkah menghadapi zaman. Selamat Hari Ulang Tahun Ke-270 Kota Yogyakarta.

Sumber: Jesika Ayu Aristawati (Mahasiswa STIE Pariwisata API)

Tim Media STIE Pariwisata API.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *