|

Setu Sinau ing Malioboro, Ruang Belajar dan Berkesenian di Tengah Ikon Kota Yogyakarta

YOGYAKARTA — Malioboro tidak hanya dikenal sebagai kawasan wisata dan pusat aktivitas ekonomi Kota Yogyakarta. Di balik keramaian jalan yang menjadi ikon kota tersebut, terdapat berbagai ruang yang mempertemukan masyarakat dengan seni, budaya, dan tradisi lokal. Salah satunya melalui kegiatan Setu Sinau ing Malioboro yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta bersama komunitas serta para pelaku seni dan budaya setempat.

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan ruang belajar budaya yang dekat dengan masyarakat. Setu Sinau ing Malioboro tidak hanya mengajak masyarakat untuk menikmati seni sebagai tontonan, tetapi juga memberikan kesempatan untuk mengenal, mempelajari, dan berinteraksi secara langsung dengan berbagai bentuk seni dan kebudayaan Yogyakarta.

Kegiatan Setu Sinau Ing Malioboro.

Kata sinau dalam bahasa Jawa berarti belajar. Semangat tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Malioboro yang selama ini identik dengan kawasan wisata diubah menjadi ruang pembelajaran yang lebih terbuka, informal, dan dapat diakses oleh berbagai kalangan. Dalam pelaksanaannya, kegiatan melibatkan komunitas dan pelaku seni budaya lokal. Keterlibatan mereka memberikan warna tersendiri karena pengetahuan mengenai kebudayaan tidak hanya disampaikan secara teori, tetapi juga melalui praktik dan pengalaman langsung. Berbagai aktivitas seni dan budaya dapat menjadi bagian dari ruang belajar tersebut, mulai dari pengenalan kesenian tradisional, musik, tari, permainan tradisional, hingga berbagai bentuk ekspresi budaya yang berkembang di Yogyakarta. Interaksi antara pelaku seni, komunitas, masyarakat, dan pengunjung membuat kegiatan berlangsung secara lebih hidup.

Malioboro memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial dan budaya Yogyakarta. Setiap hari kawasan ini menjadi tempat bertemunya masyarakat lokal, wisatawan, pedagang, seniman, komunitas, dan berbagai kelompok masyarakat lainnya. Kehadiran Setu Sinau ing Malioboro memberikan perspektif lain mengenai fungsi ruang publik. Malioboro tidak hanya menjadi tempat untuk berjalan-jalan, berbelanja, atau menikmati suasana kota, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk belajar mengenai kebudayaan. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat dapat melihat bahwa kebudayaan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Seni dan tradisi tidak harus selalu ditemui di dalam gedung pertunjukan atau ruang formal, tetapi dapat hadir dan berkembang di ruang publik. Kegiatan ini juga menjadi wadah bagi para pelaku seni dan budaya untuk memperkenalkan karya serta pengetahuan mereka kepada masyarakat secara lebih luas. Dengan demikian, terjadi hubungan timbal balik antara pelaku budaya dan masyarakat sebagai penerima sekaligus bagian dari proses pelestarian budaya.

Konsep belajar yang dihadirkan melalui Setu Sinau ing Malioboro terasa berbeda dengan pembelajaran di ruang kelas. Masyarakat dapat melihat, mendengar, bertanya, bahkan terlibat dalam aktivitas yang berkaitan dengan seni dan budaya. Suasana Malioboro yang terbuka juga memungkinkan kegiatan tersebut disaksikan oleh masyarakat maupun wisatawan yang kebetulan berada di kawasan tersebut. Mereka dapat berhenti sejenak untuk menyaksikan aktivitas budaya yang berlangsung. Hal ini menjadikan kegiatan seni dan budaya memiliki peluang untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Wisatawan yang datang ke Yogyakarta pun tidak hanya mendapatkan pengalaman berwisata, tetapi juga dapat mengenal sisi budaya lokal melalui interaksi yang berlangsung secara langsung.

Perkembangan zaman membawa perubahan terhadap cara masyarakat menikmati dan mempelajari kebudayaan. Kehadiran media sosial dan teknologi digital membuat informasi budaya dapat disebarluaskan dengan lebih cepat. Namun, pengalaman langsung tetap memiliki nilai penting dalam proses memahami kebudayaan. Setu Sinau ing Malioboro menjadi salah satu bentuk kegiatan yang mempertemukan tradisi dengan ruang publik masa kini. Kebudayaan diperkenalkan melalui aktivitas yang dapat dilihat dan dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Upaya seperti ini penting agar kebudayaan tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu, tetapi tetap hadir dalam kehidupan masyarakat saat ini. Dengan melibatkan komunitas dan pelaku seni budaya, proses pelestarian dapat berjalan secara lebih partisipatif.

Pada akhirnya, Setu Sinau ing Malioboro bukan sekadar kegiatan seni dan budaya. Lebih dari itu, kegiatan ini menghadirkan Malioboro sebagai ruang perjumpaan, ruang belajar, sekaligus ruang untuk menjaga identitas budaya Yogyakarta. Di tengah hiruk-pikuk kawasan Malioboro, masyarakat diajak untuk berhenti sejenak, melihat, mendengar, dan belajar dari kebudayaan yang tumbuh di sekitarnya. Dari ruang publik inilah, seni dan budaya diharapkan terus hidup, dikenal, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sumber: Muninggar Sekarini. (Mahasiswa STIE Pariwisata API)

Tim Media STIE Pariwisata API.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *