Festival Babad Siti Kemantren #4 Hadirkan Jejak Sejarah dan Budaya 14 Kemantren di Taman Budaya Embung Giwangan
Yogyakarta, 5 September 2026 — Suasana kebudayaan Yogyakarta terasa semakin semarak di Taman Budaya Embung Giwangan pada Sabtu (5/9/2026). Beragam cerita sejarah, tradisi, tokoh, serta potensi budaya dari berbagai wilayah Kota Yogyakarta ditampilkan dalam Mini Showcase Festival Babad Siti Kemantren #4. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta tersebut berlangsung selama dua hari, 4–5 September 2026, pukul 09.00–18.00 WIB. Mini showcase menjadi salah satu rangkaian kegiatan Festival Babad Siti Kemantren #4 yang mengangkat kekayaan sejarah dan identitas budaya dari 14 kemantren di Kota Yogyakarta.
Festival Babad Siti Kemantren #4 tahun ini mengusung konsep jelajah budaya penanda keistimewaan. Konsep tersebut mengajak masyarakat untuk melihat Yogyakarta melalui beragam karakter wilayah yang memiliki sejarah, tradisi, cerita rakyat, tokoh, bangunan bersejarah, hingga potensi budaya yang berbeda-beda. Pelaksanaan festival dilakukan secara serentak di 14 kemantren pada 31 Agustus 2026. Masing-masing kemantren mengangkat tema dan potensi khas wilayahnya sebagai bagian dari mozaik kebudayaan Kota Yogyakarta. Melalui mini showcase di Taman Budaya Embung Giwangan, berbagai hasil dokumentasi dari proses penelusuran budaya tersebut kemudian dipertemukan dalam satu ruang. Masyarakat dapat melihat bagaimana sejarah lokal yang selama ini berkembang di lingkungan kampung dan kemantren dikemas menjadi pengalaman budaya yang lebih menarik dan mudah dipahami.

Festival Babad Siti Kemantren #4 tidak hanya berorientasi pada penyajian sejarah dalam bentuk informasi. Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta berupaya menjadikan sejarah sebagai pengalaman budaya yang lebih interaktif. Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menjelaskan bahwa setiap wilayah memiliki karakter serta cerita budaya masing-masing. Kekayaan tersebut perlu digali, didokumentasikan, dan dikembangkan agar tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Menurutnya, di berbagai kampung di Kota Yogyakarta masih terdapat banyak cerita lisan dan potensi sejarah yang membutuhkan proses pendataan, validasi, serta kajian lebih lanjut. Karena itu, Festival Babad Siti Kemantren menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, serta masyarakat. Pendekatan tersebut juga membuat festival tidak hanya berbicara mengenai what to see, tetapi berkembang menjadi what to see, what to do, what to buy, and what to learn. Konsep ini terlihat dalam berbagai kegiatan jelajah budaya yang dilaksanakan di sejumlah kemantren.
Keunikan Festival Babad Siti Kemantren #4 terlihat dari beragamnya cerita yang dibawa oleh masing-masing wilayah. Di Kemantren Jetis, misalnya, kegiatan mengangkat tema Harmony in Culture dengan salah satu titik jelajah berupa Klenteng Tjen Ling Kiong atau Klenteng Poncowinatan. Peserta diajak melihat keberagaman dan sejarah kawasan melalui perjalanan yang juga melewati Bhakti Loka, Rumah Jengki, Toko Buku Mangala, Perempatan Pingit, hingga Pasar Kranggan. Sementara itu, Kemantren Umbulharjo mengangkat kisah Sang Timur melalui tema pendidikan dan cagar budaya. Kompleks Yayasan Sang Timur menjadi salah satu lokasi penting dalam penelusuran sejarah, termasuk jejak pendidikan, pelayanan kesehatan, arsitektur kolonial, serta perjalanan institusi pendidikan di wilayah tersebut.

Kemantren lain juga menghadirkan cerita khas masing-masing. Kemantren Ngampilan, misalnya, menampilkan Gamelan Hadiseno sebagai bagian dari upaya menjaga tradisi pembuatan dan permainan gamelan. Masyarakat bahkan diberikan kesempatan untuk mengenal proses pembuatan gamelan dan mencoba memainkan instrumen karawitan secara langsung. Di Kemantren Tegalrejo, kisah maestro tari Didik Nini Thowok menjadi bagian dari cerita budaya yang diangkat. Sementara Kemantren Wirobrajan menghadirkan tema Urubing Obor, Jatining Urip melalui penelusuran sejarah dan budaya wilayahnya. Keragaman tersebut memperlihatkan bahwa sejarah Yogyakarta tidak hanya berada di bangunan-bangunan monumental, tetapi juga hidup di kampung, rumah tokoh, tempat ibadah, pasar, sanggar seni, pusat kerajinan, serta ruang-ruang kehidupan masyarakat.






Salah satu pesan penting yang dibawa Festival Babad Siti Kemantren #4 adalah bagaimana sejarah dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda. Melalui dokumentasi visual, narasi sejarah, pameran, jelajah budaya, hingga interaksi langsung dengan pelaku dan pemilik warisan budaya, masyarakat tidak hanya menjadi penonton. Mereka dapat melihat, mendengar, bahkan mengalami secara langsung berbagai cerita yang membentuk identitas wilayah. Pendekatan tersebut menjadi penting di tengah perkembangan zaman ketika generasi muda semakin dekat dengan teknologi dan berbagai bentuk informasi digital. Sejarah lokal membutuhkan cara penyampaian yang kreatif agar tetap relevan dan mampu menarik perhatian generasi berikutnya.
Keistimewaan Yogyakarta tidak hanya tercermin dari keraton, bangunan bersejarah, maupun berbagai tradisi besar yang telah dikenal luas. Di balik itu, terdapat ribuan cerita lokal yang tumbuh dan diwariskan oleh masyarakat dari generasi ke generasi. Dengan mempertemukan cerita-cerita tersebut dalam sebuah festival, Babad Siti Kemantren membuka ruang bagi masyarakat untuk kembali mengenal lingkungan tempat mereka tinggal.
Mini Showcase di Taman Budaya Embung Giwangan menjadi titik temu dari perjalanan tersebut. Berbagai dokumentasi dan potensi budaya dari 14 kemantren dihadirkan sebagai gambaran bahwa setiap sudut Kota Yogyakarta memiliki cerita. Festival ini sekaligus mengingatkan bahwa merawat budaya bukan hanya tentang menjaga peninggalan masa lalu, tetapi juga memastikan cerita tersebut tetap hidup, dipahami, dan diwariskan kepada generasi mendatang. Dengan semangat tersebut, Babad Siti Kemantren #4 menjadi bukti bahwa sejarah lokal dapat dikemas menjadi pengalaman yang edukatif, kreatif, dan relevan bagi masyarakat masa kini.
Sumber: Muninggar Sekarini. (Mahasiswa STIE Pariwisata API)
Tim Media STIE Pariwisata API.

One Comment